Mengunjungi Kepulauan Banda yang penuh sejarah



A. Selayang Pandang

“Tidakkah Nona mencium aroma dari masa lalu?”

“Apa?”

“Aroma yang mengundang nenek moyang Nona berlomba-lomba mencari jalan ke sini.”

“Pala?”

“Ya. ... Nona Cathleen Zwinckel, selamat datang di Kepulauan Banda. ... Dari sinilah abad keemasan bangsa Nona berawal. Babak awal pula bagi gugus kepulauan Nusantara, untuk sebuah derita akibat keserakahan ... “

Nukilan dialog dalam sebuah novel fiksi-sejarah karangan ES Ito berjudul Rahasia Meede antara Kalek, seorang pemuda berkebangsaan Indonesia yang berjiwa nasionalis, dengan Cathleen Zwinckel, seorang peneliti wanita sejarah ekonomi kolonial asal Belanda, di atas menunjukkan bagaimana kekayaan alam di gugusan pulau bernama Kepulauan Banda mempunyai daya pikat yang luar biasa.

Sedikit menengok ke belakang, di kepulauan yang terletak di Indonesia bagian timur, tepatnya di Kabupaten Maluku Tengah atau sekitar 1 jam perjalanan dengan kapal feri dari Kota Ambon (ibukota Provinsi Maluku) ini menyimpan banyak peninggalan sejarah yang bernilai tinggi karena kisah-kisah yang menyertainya. Belanda pernah menganggap Pulau Banda ini sebagai pulau pembuangan, tetapi bangsa Indonesia menganggap pulau ini sebagai pulau perjuangan. Karena, dari sanalah para pejuang yang diasingkan oleh penjajah tidak pernah menyerah untuk berpikir menyiapkan perjuangan demi menyongsong kemerdekaan (Kompas, 24/10/96). Tokoh-tokoh seperti Sutan Sjahrir dan Bung Hatta merupakan bagian dari masa lalu Bandaneira ini.

Kepulauan Banda secara spesifik memiliki daya pikat pada alam bawah laut, aroma khas perkebunan pala dan cengkeh, serta cerita-cerita masa kolonial yang ditunjukkan oleh bangunan-bangunan tua di sana. Bandaneira, ibukota Kabupaten Maluku Tengah, juga berada di salah satu pulau di kepulauan ini, tepatnya di Pulau Banda. Sebagian orang menyebut Kota Bandaneira dengan lafal berbeda, seperti ‘Bandanera‘, ‘Bandaneyra‘, atau ‘Bandaneijra‘.



Lukisan Hukum Pancung zaman VOC

Semerbak wangi buah pala di waktu lampaulah yang menarik bangsa lain untuk datang, mencari, menemukan, dan menduduki Banda. Dalam ulasan Kompas (24/10/96) dikisahkan bahwa pada abad ke-14, bangsa Arab berlayar hingga ke Maluku, termasuk ke Pulau Banda untuk berdagang rempah-rempah, salah satunya pala. Kemudian, bangsa Portugis mendarat dan menguasai perdagangan rempah-rempah dan pala sejak tahun 1527. Selanjutnya, bangsa Belanda datang pada tahun 1599 dan memegang kendali kekuasaan perdagangan dengan VOC sebagai ‘mesinnya‘ (Vereenigde Oost Indiesche Companie) —sebuah kongsi dagang swasta untuk wilayah Hindia Timur asal Belanda yang berdiri pada 1602— atas pala dan rempah-rempah di Asia dan Eropa hingga kebangkrutan VOC pada pertengahan abad ke-19.

Hanya terdapat satu pulau di gugusan Kepulauan Banda yang diyakini tidak pernah dikuasai Belanda, yakni Pulau Ruh. Belanda dan Inggris melakukan ruilslaag atau tukar guling seperti yang banyak terjadi di perkotaan di Indonesia saat ini. Pulau Ruh yang ketika itu dikuasai Inggris, ditukar dengan Pulau Manhattan di New York, Amerika Serikat, yang dimiliki Belanda.


Pelabuhan Yos Sudarso

Kepulauan Banda memang tidak akan pernah selesai bercerita tentang masa lalunya. Kepulauan ini juga tidak pernah berhenti membuat kisah-kisah baru yang lebih manis, karena kini kepulauan yang digadang-gadang sebagai surganya Indonesia Timur terus menarik perhatian dunia. Hal ini adalah respon dari terjaganya budaya masyarakat lokal, alam (baik darat maupun laut), serta peninggalan-peninggalan fisik di Kepulauan Banda.

Benteng Belgica




Benteng Belgica, yaitu benteng yang dibangun oleh Portugis tapi kemudian diduduki Belanda pada abad ke 17.


Benteng ini berada di atas perbukitan Tabaleku di sebelah barat daya Pulau Naira dan terletak pada ketinggian 30,01 meter dari permukaan laut. Benteng yang dibangun pada tahun 1611 di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Pieter Both ini memiliki suatu keunikan. Dibangun dengan gaya bangunan persegi lima yang berada di atas bukit, namun apabila dilihat dari semua penjuru niscaya hanya akan terlihat 4 buah sisi, tetapi kalau dilihat dari udara nampak seperti bintang persegi atau mirip dengan Gedung Pentagon di Amerika Serikat. Bahkan benteng ini dijuluki The Indonesian Pentagon. Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis bangunan dan untuk memasukinya harus menggunakan tangga yang aslinya berupa tangga yang dapat diangkat (semacam tangga hidrolik). Di bagian tengah benteng terdapat sebuah ruang terbuka luas untuk para tahanan. Di tengah ruang terbuka tersebut terdapat dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan dan Benteng Nassau yang berada di tepi pantai.


Benteng ini sebenarnya merupakan salah satu benteng peninggalan Portugis yang awalnya berfungsi sebagai pusat pertahanan, namun pada masa penjajahan Belanda, Benteng Belgica beralih fungsi untuk memantau lalu lintas kapal dagang. Benteng ini kemudian diperbesar tahun 1622 oleh J.P. Coen. Kemudian, tahun 1667 diperbesar lagi oleh Komisaris Cornelis Speelman. Tahun 1911 Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum memerintahkan agar benteng ini dipugar. Benteng ini menjadi markas militer Belanda hingga tahun 1860.



Pada setiap sisi benteng terdapat sebuah menara. Untuk menuju puncak menara tersedia tangga dengan posisi nyaris tegak dan lubang keluar yang sempit. Dari puncak menara ini wisatawan dapat menikmati panorama sebagian daerah Kepulauan Banda, mulai dari birunya perairan Teluk Banda, sunset, puncak Gunung Api yang menjulang, sampai rimbunnya pohon pala di Pulau Banda Besar. Berjalan-jalan di sekitar benteng ini sangat menyenangkan sambil membayangkan suasana masa kolonial tempo doeloe.


B. Keistimewaan


Heaven on East Indonesia!

Kata-kata itu pantas disematkan sebagai slogan Kepulauan Banda. Selain menjadi laboratorium bagi para penyelam kelas dunia dan penyuka wisata pantai, kawasan yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil ini juga merupakan ‘monumen‘ hidup bagi sedikitnya tiga bangsa, yaitu Portugal, Belanda, dan Indonesia.

Senyatanya, beberapa peninggalan sejarah kolonial dan masa perang kemerdekaan masih dapat kita jumpai di Kepulauan Banda ini. Peninggalan-peninggalan itu antara lain rumah pengasingan dr. Tjipto Mangunkusumo, yang kala itu diasingkan bersama Mr. Iwa Kusumasumantri, rumah pengasingan Soetan Sjahrir (Perdana Menteri Republik Indonesia pertama), rumah pengasingan Mohammad Hatta (proklamator sekaligus Wakil Presiden Republik Indonesia pertama), Benteng Nassau (peninggalan Portugal abad ke-16), Benteng Belgica (peninggalan VOC Belanda, berdiri tahun 1611), Pelabuhan Neira, sebuah gereja tua berusia tiga seperempat abad lebih (didirikan pada tahun 1680) yang di bawah lantainya terdapat kuburan 39 warga Belanda masa lalu, dan lain sebagainya.



Gereja tua di Bandaneira

Di Museum Bung Sjahrir, sebagaimana masyarakat Banda menyebut bekas rumah Soetan Sjahrir di Bandaneira, beberapa dokumen penting terpampang di papan pajangan bersama sejumlah foto kenangan perjuangan bersama beberapa koleganya. Selain itu, masih tersimpan dengan baik di sana salinan surat pengangkatan Soetan Sjahrir sebagai Perdana Menteri merangkap Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri yang ditandatangani oleh Ir. Soekarno (Presiden Republik Indonesia) pada tanggal 15 November 1945. Kala itu, Bung Kecil –sapaan akrab Soetan Sjahrir– masih berusia 36 tahun.


 Ruang Tamu di Museum Bung Sjahrir


Gramofon di Museum Bung Sjahrir

Di tempat yang sama, pengunjung juga dapat menjumpai gramofon yang pernah digunakan oleh Bung Kecil dan para pejuang lainnya untuk mendengarkan musik-musik klasik kesukaan mereka. Menapaki rumah bersejarah ini, sebagaimana ulasan Kompas (24/10/96) kita tidak hanya akan ‘mendengarkan‘ saksi-saksi perjalanan Sjahrir dan kawan-kawannya yang bercerita melalui artefak-artefak, melainkan juga pemikirannya selama ditahan dan diasingkan oleh Belanda yang dituangkannya dalam Renungan Indonesia. Renungan Indonesia berupa bundel tulisan yang dikemas dalam bentuk buku bersampul hijau yang dipajang pada salah satu meja di rumah ini.


Bekas rumah Bung Hatta di Kepulauan Banda

Sementara, apabila pengunjung bertandang ke bekas rumah Bung Hatta, kita dapat temui kaca mata yang pernah digunakan oleh beliau saat membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, Jakarta. Di Museum Bung Hatta ini pula dapat ditemui satu stel jas warna kombinasi abu-abu cokelat. Jas bersejarah ini digunakan Bung Hatta saat menandatangani hasil-hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda pada 23 Agustus—2 November 1949 (Kompas, 24/10/96). Mengelilingi rumah ini, kita dapat membayangkan betapa mengenaskannya kondisi rumah pengasiangan ini. Di salah satu pojok halaman rumah, kita akan menyaksikan gentong yang dulu berfungsi sebagai penampung air hujan. Air hujan yang terkumpul dalam gentong tersebut digunakan Bung Hatta untuk sumber air minum karena, selain tidak ada sumur, air di sana mengandung kadar garam tinggi.

Beberapa lokasi bersejarah lainnya masih dapat Anda saksikan dan nikmati di Kepulauan ini. Misalnya beberapa bangunan yang telah dipugar dan tetap berwajah sebagaimana aslinya, yaitu rumah marinir Inggris, Christopher Cole, yang kini dijadikan museum; kediaman resmi Gubernur Jenderal VOC kala berada di Bandaneira, yang lebih dikenal sebagai Istana Mini; serta Masjid Jami Hatta-Syahrir, yang terletak di Desa Nusantara.


Pesona Laut dan Gunung Api, Kepulauan Banda


Selain wisata sejarah perjuangan dan kolonialisme, Kepulauan Banda sangat kaya dengan kawasan-kawasan tujuan tamasya alam. Di Pulau Gunung Api (pulau ini berhadap-hadapan dengan Pulau Banda Kecil), terdapat gunung setinggi sekitar 700 meter bernama Gunung Banda Api. Dari Kota Bandaneira, Anda dapat melihat keagungan dan kecantikan gunung itu selagi hari masih pagi, maupun di senja yang sedang menghampiri kota ini.

Tak hanya gunung yang menghiasi alam Kepulauan Banda, dalam www.dunialaut.com dilukiskan bagaimana indahnya alam laut di perairan kepulauan ini. Penyelam-penyelam kelas dunia mengakui dan menganggap laut Banda merupakan salah satu dive spot terbaik di dunia. Kepulauan Banda memang terkenal dengan keindahan hayati alam bawah lautnya serta terumbu karang yang mempesona. Pernah satu ketika letusan Gunung Api merusak sebagian sisi terumbu karang Pulau Banda Besar. Namun menurut penilitian dari UNESCO, akibat fenomena ini justru pertumbuhan terumbu karang di tempat ini menjadi yang tercepat di dunia. Karena, pertumbuhan terumbu karang hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh tahun.


Snorkeling dan Diving di Laut Banda


Tamasya bawah laut alias menyelam di Kepulauan Banda memang menakjubkan, clear visibility (tingkat kejernihan pandangan) bisa mencapai 40 meter saat menyelam dan hal ini membuat pemandangan alam bawah laut bisa terlihat dengan jelas. Hampir seluruh area penyelaman di Pulau Banda Besar, Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Hatta, Pulau Sjahrir, hingga mendekati dermaga Bandaneira memiliki pesona dan keanekaragaman alam bawah laut yang tak mungkin dilihat di tempat lain di dunia. Perjalanan antartitik penyelaman satu dengan yang lain tidak terlalu jauh, dan rata-rata dapat ditempuh dengan waktu antara 30 menit sampai 1,5 jam dengan kapal boat. Di area ini, mata Anda benar-benar akan dimanjakan dengan warna-warni terumbu karang dan soft coral yang sehat. Ditambah dengan ribuan ikan yang seolah tidak peduli dengan kehadiran serta kedekatan Anda. Bila sedang dipermukaan laut, sesekali Anda akan menyaksikan sekelompok lumba-lumba yang melompat-lompat. Menakjubkan, bukan?


War Canoe Tradition di Pulau Sjahrir,Kepulauan Banda

C. Lokasi

Kepulauan Banda terletak di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Indonesia.

D. Akses

Dari Kota Ambon, ibukota Provinsi Maluku, Anda dapat menggunakan Kapal Pelni KM Ciremai dari Pelabuhan Yos Sudarso untuk menuju Bandaneira. Waktu tempuh yang diperlukan kapal ini adalah tujuh (7) jam perjalanan ke arah tenggara dari Ambon. Meski tampak menjemukan, perjalanan selama 7 jam tersebut akan terobati dengan panorama Laut Banda yang menakjubkan di siang hari.

Sesampainya di Pelabuhan Yos Sudarso, Anda dapat mencari angkutan umum yang berjejeran di pelabuhan tersebut untuk menuju ke penginapan terdekat. Angkutan umum yang dapat mengantar Anda menuju tempat menginap adalah becak, ojek, angkutan kota, maupun taksi. Namun, bila Anda tidak sabar untuk segera menuju ke lokasi tamasya, angkutan umum bisa langsung membawa Anda ke tempat tujuan yang dikehendaki.

E. Harga Tiket

Untuk memasuki kawasan Kepulauan Banda, pengunjung tidak dikenai retribusi apapun.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Fasilitas penginapan dan transportasi bagi wisatawan yang mengunjungi Kepulauan Banda dapat ditemui di Kota Bandaneira. Sebagai ibukota kabupaten, kota ini menyediakan beberapa hotel—meski belum ada hotel berbintang lima di sana (hingga April 2009)—dan pelbagai penginapan sederhana (hotel kelas melati). Penginapan-penginapan tersebut dapat wisatawan temui, antara lain di Jalan Pelabuhan dan Jalan Liliselo (Depbudpar RI, 2008: 347). Selain itu, berbagai rumah makan yang menyajikan menu-menu masakan khas Maluku tidak sulit dicari.

Di kota ini, pengunjung juga tidak akan direpotkan oleh persoalan, misalnya: ke mana saya harus berwisata di kawasan yang banyak pulaunya ini? Di sana, tersedia beberapa tukang ojek yang dapat mengantar para wisatawan berkeliling kawasan ini sekaligus berfungsi sebagai pemandu wisata (tourist guide). Banyak pula dari mereka yang bekerja sebagai pegawai hotel tertentu, sehingga ketika Anda menemui sang tukang ojek, maka Anda akan mendapat informasi di mana tempat menginap yang sesuai dan juga objek wisata apa yang menarik untuk dikunjungi di kawasan Kepulauan Banda ini. Dengan demikian, perjalanan Anda di Kepulauan Banda akan menjadi mudah. Biasanya, para penyedia jasa ojek ini mangkal di sekitar Pelabuhan Yos Sudarso.




Reaksi:
Pesan dan Kesan