Menghadapi Suami Pemarah

Dua tahun hidup bersama dalam pernikahan membuat Amel merasa tertipu oleh sifat Dito suaminya. Dulu selama 3 tahun pacaran tidak pernah sekalipun Amel melihat Dito marah. Tapi kini ia baru sadar bahwa suaminya ternyata
mempunyai sifat temperamental yang makin lama membuat dirinya menjadi resah sekaligus bingung menghadapinya. Melakukan kesalahan sepele saja suaminya
bisa langsung naik darah!!!

Bila pengalaman Anda sama dengan Amel, pasti Anda tak mau mengedepankan
rasa penyesalan yang berlarut-larut. Sebaiknya Anda mempelajari cara
menyikapinya:

*• Pengaruh Polah Asuh*

Orang yang memiliki sifat temperamental mudah terpancing kemarahannya oleh
situasi atau keadaan di luar keinginannya. Sepenggal kata atau intonasi bicara yang salah saja bisa menjadi bahan pertengkaran. Peter Andersen, Ph.D.,penulis *The Complete Idiot’s Guide to Body Language* mengatakan, sifat ini bisa disebabkan antara lain oleh faktor pola asuh yang diberlakukan dalam keluarga dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di lingkungannya.

*Solusi: *Sedapat mungkin buatlah kondisi rumah tangga menyenangkan, agar suami bisa merasakan kenyamanan, sehingga rasa ingin marah tidak mudah tersulut. Coba cari tahu lebih banyak lagi mengenai hal-hal dan situasi apa saja yang dapat membuatnya gembira, dan sebaliknya yang membuatnya kesal.

*• Ingin Diajak Bicara dengan Tenang*

Saat suami sedang emosi percuma saja mendebatnya. Justru ia bisa  semakin marah karena merasa ‘ditantang’ oleh Anda. Akibatnya Anda bisa *ikutan
*’panas’, mengalah atau justru tidak mempedulikannya sama sekali. Pilihan ke-3 bahkan dapat membuatnya semakin menjadi-jadi. “Jika dibiarkan berlarut-larut keadaan psikis sang istri bisa terganggu dan pernikahan keduanya juga terancam,” ujar Peter lagi.

*Solusi: *Langkah yang baik adalah mengajaknya bicara untuk menyelesaikan
masalah yang menjadi pemicu kemarahannya tadi. Lakukanlah saat kemarahannya
sudah reda. Gunakan gaya bicara yang halus agar emosinya tidak ‘naik’ lagi.

*• Ingin Mengungkapkan dengan Terus Terang*

Ada hal positif yang bisa Anda dapatkan bila suami memiliki sifat
temperamental. Sifat tersebut membuatnya selalu berterus terang dan jujur
mengenai apa yang ia sukai maupun tidak. Hanya sayangnya cara ia
mengungkapkan cenderung frontal sehingga kesan yang Anda tangkap adalah rasa
tidak suka.

*Solusi:* Bila ini terjadi atasilah dengan menganggapnya sebagai suatu
kritikan untuk Anda. Percuma saja bila emosi Anda terpancing karena dia
tidak akan mengubah pendapatnya, dan lebih buruk lagi, ia tak merasa salah!

*• Berhenti merajuk *

Rajukan adalah suatu hal yang sangat menyebalkan bagi tipe suami temperamen. Ada kalanya memang sebagai sosok wanita sangat ingin dimanja, tetapi pria macam ini akan sangat jengkel dan mudah emosi jika melihat Anda merajuk.

Tips: tunjukkan sikap bahwa Anda adalah sosok mandiri yang kuat. Coba cari celah untuk bermanja-manja dengannya. Mungkin Anda bisa bertanya pada dirinya sikap nyaman yang mana yang membuat si dia ingin selalu memanjakan Anda. Dialog dengan kepala dingin akan membuat si dia bahagia dan merasa dihormati sebagai sosok pemimpin keluarga.

*• Positif thinking!*

Normalnya jika si dia mulai marah tanpa alasan dan mulai merembet ke mana-mana Anda akan terpancing pula. Namun tetaplah berpikir positif. Ia butuh waktu untuk berpikir dari sisi Anda dan dia. Ia memang harus belajar mengendalikan emosinya, namun emosi tidak bisa dibalas dengan emosi.

Tips: dekati dia dan belai dengan sentuhan lembut tangan Anda ketika emosi dia mulai naik. Tunjukkan bahwa Anda mengerti dan memahaminya. Jangan balas dengan cercaan pertanyaan dan emosi yang meninggi pula. Kontak fisik, akan membantunya merasa lebih tenang. Belai punggungnya perlahan dari atas ke bawah, ini akan membuatnya lebih tenang.

*• Momen kebersamaan*

Susun kegiatan bersama yang menyenangkan setiap weekend. Bukan hanya liburan bersama yang akan menjadi rutinitas, namun sebuah momen di mana kebersamaan adalah yang paling penting di dalamnya. Semakin dekat Anda dan dia, semakin mudah pula memahami dan menyelami perasaannya.

Kunci yang harus selalu Anda pegang adalah: kesabaran. Seseorang memang bisa berubah, namun butuh waktu yang cukup lama karena ia masih harus belajar beberapa hal untuk menyesuaikan diri. Jadi, jika suami Anda temperamen, jangan terburu meninggalkannya dan mengucapkan kata "cerai". People's change, and you can change them


Reaksi:
Pesan dan Kesan